jatiluwih

jatiluwih

Rabu, 18 Januari 2012

Membangun Bali dari diri kita sendiri

ini merupakan tulisan awal saya setelah lama vakum sekitar 6 bulan,... hehehehe,..
pemikiran ini sebenranya sudah lama saya memilikinya, tapi belum ada momen yang pas untuk menulisknannya.

ini bermula ketika saya mendapat undangan bazar dari seorang rekan yang bernama Komang, dulu teman kuliah dikampus sekarang bekerja disalah satu kementrian....
pada awalnya, yah untuk teman ya saya beli kuponya. saya menyadari ketika dirumah bahwa bazarnya ternyata bazar warung, bukan nge-bar di banjar. ya, sebuah ide yang biasa disaat sekarang ini. tapi ada hal yang berbeda, bahwa pengambilan kupon bazarnya ternyata diwarung yang made-in bali mulai dari pemilik, pegawai, sampai tetek bengeknya aseli bali,...
kreatif!!!!! 
awesome!!!!
ternyata walaupun denpasar dikenal sebagai kota modern yang masyarakatnya hedonis, masih ada generasi muda yang peduli dan memiliki idealis tinggi untuk mempertahankan identitas "lokalnya" bahwa saya orang bali makan ditempat orang bali dong!!!!!
bukan di mekdi atau sejenisnya...
sebuah ideologi yang menarik ditengah westernisasi bali saat ini.
kemudian lanjut ketika saya mengambil bazarnya.
lokasinya dijalan drupadi. 
sebuah warung yang menjual menu bali tentunya, rasanya lumayan enak, sesuai dengan lidah kita orang bali.

tapi bukan itu yang menjadi pemikiran saya. dari awal saya memasuki drupadi, saya melihat sebuah restoran jepang ya, sebut saja "hmmsa" yang pada saat itu sangat ramai dikunjungi oleh orang lokal. hati saya menjadi miris ketika saya berkunjung kelokasi bazar ini yang ternyata sangat sepi pengunjung. waktu itu tercatat hanya saya saja yang makan disana. 
ironis memang,.. disaat kita ramai mendengang-dengungkan kuliner lokal sebagai salah satu ciri khas bali, ternyata kenyataannya, kuliner lokal sebagai sarana rekreasi kuliner kalah pengunjungnya dengan kuliner import, bahkan mungkin dagang pecel lele dipinggir jalan. 
ironis memang, tapi itulah kenyataannya. saya ingin bertanya, kepada hati saya sendiri kalau bukan kita yang memulai untuk egois hanya makan ditempat yang ada pelangkirannya, sampai kapan saudara kita bisa bertahan?????????
kita sendiri harus membantu saudara kita yang sedang bertempur dikuliner dengan menjadi idealis.
kita harus memandang bahwa kuliner tidak hanya sebagai kuliner tapi kuliner juga membawa ideologi, membawa identitas kita sebagai orang bali. seperti saya misalnya ketika saya diluar bali, dalam acara resmi saya pasti tidak akan menyentuh daging sapi seterpaksa apapun. karena itu identitas saya. saya pasti menyebutkan bahwa babi guling itu enak, lawar itu goood dan makanan bali itu paling enak karena itu identitas saya sebagai orang bali .
tentu lain hal ketika saya penelitian, saya harus menghormati adat setempat yang tentunya berbeda dengan adat bali.
ketika kita mengirimkan oleh-oleh kepada rekan kita yang diluar bali kita juga harus memiliki idealisme, bahwa makanan/oleh-oleh yang kita kirim harus berdasar pada jerih payah orang bali sendiri dalam setiap prosesnya, misalkan kita mengirim kacang... ya pilihlah kacang yang dibeli dipasar tradisional, walaupun tanpa merek,... lindung/belut yang lokal,.... buah-buahan seperti manggis juga lokal,.... dan begitu juga bakpia,.. ada bakpia baturiti yang dibuat saudara kita yang tionghoa bali sangat enak, jauh lebih enak dari pia arogan didekat bandara, demikian juga dengan pie susu dijalan nagka,....
apa anekdot ini masih harus kita pertahankan "nak bali meli bakso ngadep tanah, nak ..... ngadep bakso meli tanah".
kita harus sadar. kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjaga bali!!!
lupakan ajeg bali karena bali harus tetap dinamis, tapi kita harus tetap idealis sebagai orang bali.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More