jatiluwih

jatiluwih

Selasa, 16 Agustus 2011

Benda Cagar Budaya

BAB I
PENDAHULUAN

Indonesia adalah Negara yang kaya akan peradaban dari masa lampau. Diperkirakan manusia pertama kali menghuni Indonesia pada sekitar satu juta tahun yang lalu, ketika dataran sunda masih menjadi satu daratan dengan Asia Tenggara.Keberadaan masnusia pertama yang datang kewilayah Indonesia berdasarkan fosil-fosil yang ditemukan adalah pithecanthropus erectus. Melewati masa prasejarah kemudian, zaman perunggu, kemudian berlanjut pada masa Hindu, kebudayaan Indonesia sangat berkembang pesat, utamanya kebudayaan yang didukung oleh Agama Hindu, yang kemudian diikuti oleh Buddha. Pada masa ini banyak dibangun candi-candi pemujaan yang bangunannya masih tetap eksis sampai saat ini.
Begitu kayanya Indonesia akan peninggalan purbakala, tentunya membutuhkan suatu aturan yang mendukung pelestarian benda-benda peninggalan purbakala maupun peninggalan budaya. Inilah kemudian yang mendorong pemerintah untuk semakin menyempurnakan keberadaaan undang-undang cagar budaya, demi kelestarian benda peninggalan masa lampau.Berdasarkan UU Cagar Budaya yang disetujui DPR pada tahun 2010, yang dimaksudkan cagar budaya adalah warisan budaya berupa benda cagar budaya, struktur cagar budaya, bangunan cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya, baik di darat, maupun di air yang perlu dipertahankan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, agama, dan kebudayaan memalui penetapan.
Kemudian yang dimaksudkan dengan benda cagar budaya adalah benda buatan manusia, dan/atau benda alam, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan evolusi manusia.Bangunan cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuha ruang beratap.Struktur cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang tak beratap.Sedangkan situs cagarbudaya adalah lokasi yang berada di darat dan diair yang mengandung benda cagar budaya, bangunan cagar budaya dan struktur cagar budaya yang berkaitan dengan kegiatan manusia dan peristiwa masa lampau.Kawasan Cagar Budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua situs Cagar Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang yang khas.
Berdasarkan definisi UUCagar Budaya tahun 2010, terdapat banyak tinggalan-tinggalan diseluruh Indonesia yang bisa dikategorikan menjadi benda cagar budaya, apakah itu berupa keris, patung, nekara, kompleks candi bahkan kompleks pura yang banyak terdapat di Bali.
Bali merupakan satu-satunya daerah di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Hindu.Hal ini menjadikan Bali sebagai museum hidup bagi kebudayaan Hindu yang berkembang di Indonesia, terutama yang berasal dari Kerajaan Majapahit. Masih kuatnya pengaruh tradisi Hindu pada masyarakat Bali menyebabkan tinggalan-tinggalan cagar budaya yang berasal dari zaman Hindu masih tetap terawat sampai saat ini, hal ini tentunya berbeda dengan didaerah lainnya di Indonesia, dimana tinggalan-tinggalan tidak terawat bahkan disalahgunakan dikarenakan hilang/berubahnya masyarakat pendukung kebudayaan tinggalan-tinggalan cagar budaya.
Objek cagar budaya yang terdapat Dibali kebanyakan berupa benda-benda cagar budaya yang masih sangat terawat bahkan masih disakralkan oleh pemiliknya.Selain berupa benda, objek cagar budaya di Bali juga berupa situs-situs, kawasan-kawasan cagar budaya yang masih sangat erat kaitanya dengan upacara-upacara religi orang Bali.Inilah yang menjadi penyebab mengapa kawasan cagar budaya sangat terawat diBali.
Kawasan cagar budaya ini berupa kommpleks pura, kompleks candi.Salah satu contoh situs cagar budaya adalah kompelks Pura Dalem Purwa Kubontingguh. Dalam kompelks pura terdpat beberapa buah pura, diantaranya Pura Beji Tengah, Pura Beji Suda Mala, Pura Dalem Purwa Kuboringguh termasuk juga Batur Arya Kenceng. Kesemua pura-pura ini memiliki fungsinya masing-masing bagi kehidupan religi masyarakat Hindu dari awal berdirinya pada masa lampau sampai saat ini.Karena itulah kompleks Pura Dalem Purwa Kubontingguh sangat layak dijadikan kawasan cagar budaya.



BAB II
ISI
1.        Identifikasi Wilayah
Secara geografis, lokasi kompleks Pura Khayangan Jagat Dalem Purwa Kubontingguh, merupakan dataran rendah,dengan ketinggian 100-150 meter diataspermukaan laut. Lokasinya sangat mudah dicapai dengan sarana jalan dan transportasi yang mendukung, yakni 2,5 km dari kota Tabanan ke utara melewati Banjar Kamasan, Denbantas, Bakisan  yang selanjutnya berbelok kearah barat.
                Batas-batas lokasi pura adalah:
·         Sebelah utara, Jalan Raya adat Kubontingguh
·         Sebelah timur, sungai.
·         Sebelah selatan, persawahan Subak Uma Tegal
·         Sebelah Barat, tegalan pribadi milik masyarakat
Lingkungan disekitar pura masih memperlihatkan suasana yang alami.Didepan pura terdapat wantilan dengan tujuan untuk memnunjang aktifitas budaya Bali.Bangunannya ditata dan dibangun sesuai dengan pola arsitektur Bali, yang dimaksudkan untuk mendukung keeberadaan pura.
Kompleks Pura Dalem Purwa Kubontingguh sendiri terdiri dari beberapa pura, diantaranya: (1).Pura Beji Suda Mala; (2). Pura Beji Sindhu Merta; (3). Pura Beji Taman Sari (Beji Tengah); (4). Pura Dalem Purwa Kubontingguh; (5). Pura Batur Arya Kenceng

2.        Sejarah Pura
Secara etimologi, purwa kubontingguh berasal dari kata purwa, bun, dan tingguh. Arti kata purwa = wit/paling timur/utara = ulu/asal; bun = batang pohon = kekuatan; tingguh = tunggak = tangguh. Dengan demikian, purwa kubontingguh secara etimologi berarti asal kekuatan yang tangguh.Adapun mitologinya sebagai berikut, pada waktu Rsi Markandia dari India meyebarkan agama menuju di Pulau Bali menuju Batu Karu beliau akhirnya merabas hutan belantara sampai di suatu tempat yang selanjutnya membuat gubuk di atas tonggak-tonggak kayu (bun-bun besar) sebagai sandaran atau peningguk yang sudah mendapat kekuatan dari Sang Banas Pati. Di suatu hari, gubuk itu mengeluarkan sinar (teja) yang merupakan pemberian kekuatan dari Sang Hyang Tunggal. Dari gubuk yang berada di atas tonggak bun sebagai peningguk yang sangat tangguh yang sekarang bernama Kubontingguh sebagai pesraman Sang Maha Yogi
Hasil kajian bersama Tim Arkeologi Denpasar yang didapat dan dikaji dari batu sakral yang ada dan berbagai sumber bahwa pada jaman batu/jaman megalitik (abad ke-2) keberadaan Pura Dalem purwa Kubontingguh telah ada. Berkenaan dengan itu, pada ukiran di samping kanan Gedong Agung Pura Dalem Purwa Kubontingguh terdapat chronogram yang merupakan pembangunan/perbaikan pada saat itu, sebagai berikut: Dewa Api, burung, senjata cakra, badan. Melihat komposisi gambar relief seperti itu, alternatif untuk membacanya harus dimulai dari belakang, yakni badan atau angga bernilai satu (1), senjata cakra bernilai lima (5), burung atau hewan bernilai enam (6), api atau dewa api bernilai tiga (3). Dengan demikian, relief ini dibaca dengan nilai atau angka tahun 1563 saka atau 1641 masehi.
Di dalam Gedong Agung Pura Dalem Kubontingguh ditempatkan beberapa benda sakral seperti batu, arca dan senjata (pajenengan) yang keberadaannya sangat sulit ditentukan asal usulnya.Pada saat pelebaran Pura tahun 1974, ditemukan dua buah gelang perunggu besar dan pada tahun 2001 disaat pembangunan wantilan dan perataan tanah parkir diketemukan batu lingga yoni.
Batu Lingga Yoni yang ditempatkan di Candi Batara Kerihinan yang asal usulnya terkait dengan Pura Batu Karu dan yang berada di Lingga Yoni tersebut adalah Sang Hyang Pasupati, yang berlokasi di Banwa Kawan (Ka: Dewata Agung; jWa: teja/sinar; Na: ada). Sekian lama Bali ditaklukkan oleh Majapahit. Pada tahun 1352 atau abad ke 13 Sang Subakti Betara Arya Kenceng mendapatkan wahyu kekuatan (kedirgayusan) sehingga Beliau berkata “ keturunannya mesti sujud di hadapan Pura Khayangan Jagat Dalem Kubontingguh “.
Pura Khayagan Jagat Dalem Purwa Kubontingguh mempunyai fungsi sebagai berikut:
1.   Sebagai tempat mohon pengelukatan dasa mala.
2.   Oleh masyarakat pengempon yaitu Desa Adat besar Kubontingguh, Pura Khayangan Jagat Dalem Purwa ini difungsikan sebagai Pura Dalem Khayangan Desa Adat Kubontingguh, sebagaimana layaknya persyaratan sebuah Desa Adat.
3.    Bagi para subak Adat kubontingguh dan subak yang berada di hilir Pura, juga dimanfaatkan sebagai tempat memohon keberhasilan pertanian khusunya pascapangan dari segi spiritual/ Pura Pengrastiti Subak
                Mengenai keberadaan Pura Batur Arya Kenceng di kompleks pura sangat erta kaitannya dengan proses pemindahan pusat kerajaan dari Pucangan (Buahan) ke Tabanan.

3.        Pura Dalem Purwa Kubontingguh Sebagai Kawasan Cagar Budaya.
Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa yang dimaksudkan dengan kawasan cagar budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua situs Cagar Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang yang khas. Yang menjadi persyaratan suatu kawasan menjadi sebuah kawasan cagar budaya berdasarkan UUCagar Budaya tahun 2010 pasal 10 adalah :
No
Kriteria berdasarkan uu cagar budaya tahun 2010 pasal 10
Kondisi di lapangan
1.
Mengandung 2 (dua) Situs Cagar Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan
Terdapat banyak bangunan pura yang tentu saja mengandung banyak benda, struktur, bangunan cagar budaya.
2.
Berupa lanskap budaya hasil bentukan manusia berusia paling sedikit 50 (lima puluh) tahun;
Berdasakan chonogram yang ada, pura ini dibangun  pada 1641 masehi, dan selama itu pura ini tidak kehilangan fungsinya.
3.
Memiliki pola yang memperlihatkan fungsi ruang pada masa lalu berusia paling sedikit 50 (lima puluh) tahun;
Sudah terlihat pada sejarah pura.
4.
Memperlihatkan pengaruh manusia masa lalu pada proses pemanfaatan ruang berskala luas;
Sudah terlihat pada sejarah pura.
5.
Memperlihatkan bukti pembentukan lanskap budaya
Sudah terlihat pada sejarah pura.
6.
Memiliki lapisan tanah terbenam yang mengandung bukti kegiatan manusia atau endapan fosil.

Disekitar kompleks pura dalem purwa kubontingguh masih diketemukan adanya tinggalan-tinggalan arkeologi. Berdasarkan penggalian terakhir tahun 2001, diketemukan lingga yoni.

Melihat dari persyaratan yang dicantumkan pada UU Cagar Budaya pasal 10 tahun 2010, , maka kompelks Pura Dalem Purwa Kubontingguh sangat layak dimasukkkan menjadi kawasan cagar budaya (Cultural Heritage Conservation). Dengan ditetapkannya kompleks Pura Dalem Purwa Kubontingguh sebagai kawasan cagar budaya tentunya diharapkan pada nantinya bisa memberikan dampak yang positif bagi perkembangan masyarakat setempat.
Hal ini tentunya membutuhkan dukungan dari pemerintah melului PP, Perda yang dapat mengatur mengenai kawasan cagar budaya Pura Dalem Purwa Kubontingguh yang berlandaskan nilai filosofi masyarakat setempat. Ini tentunya tidak bertentangan dengan tujuan kawasan cagar budaya (tujuan chc) itu sendiri yang mana sangat mengutamakan keuntungan bagi masyarakat lokal baik dari tingkat, pendapatan , akses, maupun perbaikan kualitas lingkungan. Selain itu, pemerintah haruslah membangun sarana-prasarana pariwisata terutama jalan yang memudahkan akses wisatawan menuju kesana.
         Dukungan yang tidak kalah pentingnya adalah dari biro-biro wisata, dimana biro-biro wisata dapat mempromosikan kawasan cagar budaya Pura Dalem Purwa Kubontingguh sebagai salah satu alternative pariwisata di Bali.Apakah wisata tersebut bersifat wisata religi, history maupun wisata alam atau gabungan dari ketiganya, Karena kompelks Pura Dalem Purwa Kubontingguh sangat mampu mengakomodasi ketiganya.
         Dukungan yang paling penting adalah dukungan dari masyarakat setempat. Tanpa adanya dukungan masyarakat setempat, semuanya ini hanya akan menjadi sebuah sayur tanpa garam. Dukungan dari masyarakat haruslah dimulai dari tahap perencanaan kebijakan, karena mereka yang mengetahui apa yang boleh atau yang tidak untuk daerah mereka. Tentunya kita tidak perlu mengulangi sejarah dimasa lalu, dimana pembangunan tempat wisata tanpa dukungan masyrakat setempat hanya akan menimbulkan konflik, yang pada akhirnya mengakhiri kawasan wisata tersebut.Keterlibatan masyarakat dalam kawasan cagar budaya ini haruslah dimaksimalkan, selain untuk meminimalisir konflik juga sekaligus untuk mempertahankan eksistensi kawasan itu sendiri. Eksistensi kawasan itu sendiri akan tetap terawat, jika perut masyarakatnya sudah penuh (sejahtera). Hal ini dikarenakan masyarakatlah yang pertama kali dan paling besar menerima dampak baik positif maupun negatif dari kawasan cagar budaya ini.
         Untuk membangun kawasan cagar budaya yang berbasis masyarakat, selain dukungan tentunya dibutuhkan adanya program-program yang berasal dari  proses penentuan kebijakan yang melibatkan semua elemen (pemerintah, masyarakat, biro wisata). Program ini bisadibagi menjadi 2, yakni program persiapan, dan program pelaksanaan.

1.        Program persiapan, meliputi persiapan-persiapan yang dilakukan untuk menerima kedatangan wisatawan.
a.         Registrasi benda, struktur, situs cagar budaya yang terdapat dalam kawasan cagar budaya Pura Dalem Purwa Kubontingguh. Registrasi ini menjadi penting untuk mengetahui jumlah, sejarah, dan sistem perawatannya.
b.         Perbaikan infrastruktur terutama jalan, seperti yang diketahui bahwa akses menuju kawasan cagar budaya sangat rusak, dan itu wajib diperbaiki untuk memperlancar akses keluar masuk .
c.         Pembangunan sarana-prasarana pendukung pariwisata. Pembangunan ini sangatlah penting untuk mendukung kegiatan didalam kawasan cagar budaya. misalnya pembangunan jogging track maupun bicycle track yang mendukung wisata alam, tentunya ini dibangun diluar kawasan suci pura.
d.        Promosi wisata lewat biro-biro wisata yang ada
e.         Edukasi masyarakat tentang dampak pariwisata, apa yang akan diperoleh dari kedatangan wisatawan, agar pada nantinya masyarakat tidak terkejut dengan dampak yang dihasilkan.
2.        Program pelaksanaan, berupa pelaksanaan kegiatan gabungan yang dilaksanakan secara berkesinambungan, tentunya harus melibatkan masyarakat dalam segala lini. Penggunaan tenaga kerja luar desa (harus orang Bali, agama Hindu) hanya pada bidang-bidang yang tidak dikuasai penduduk setempat.
a.         Pelaksanaan atraksi-atraksi wisata yang mendukung dan sesuai dengan kawasan wisata, misalnya arja, sendratari, barong yang dilaksanakan diwantilan kompleks pura pelaksanaan kegiatan kubontingguh fiesta, yang berupa gabungan kegiatan pameran, atraksi wisata yang dilaksanakan di sekitaran areal kawasan cagar budaya.
b.         Pelaksanaan kegiatan wisata “back to the nature” dimana wisatawan akan diajak untuk bertani membantu petani menanam, memupuk maupun memanen padi. Hal ini sangat didukung dengan lokasi kawasan cagar budaya yang masih dikelilingi oleh persawahan.
         Dengan program seperti yang dijelaskan diatas, diharapkan kawasan cagar budaya Pura Dalem Purwa Kubontingguh bisa menjadi contoh bagi kawasan cagar budaya yang lainnya tentang pemanfaatan sumber daya lokal dan kesinambungan dalam pelestarian lingkungan.



BAB III
Penutup

                Kawasan Pura Dalem Purwa Kubon tingguh sangat layak dijadikan sebagai kawasan cagar budaya (cultural heritage conservation), dikarenakan kawasan Pura Dalem Purwa Kubontingguh memiliki keunikan tersendiri dan landscape yang masih alami.
                Sebagai kawasan cagar budaya, tentunya Pura Dalem Purwa Kubontingguh akan sangat bermaanfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat pendukungnya. Baik itu dari segi ekonomi maupun sosial.
                Pengembangan kawasan ini, haruslah berdasarkan kebutuhan masyarakat setempat karena masyarakatlah yang tahu apa yang terbaik untuk mereka selain untuk mengurangi timbulnya konflik dikemudian hari.
                Sebagai akhir kata, pengembangan suatu kawasan menjadi kawasan cagar budaya (cultural heritage conservation) haruslah berawal dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More