jatiluwih

jatiluwih

Selasa, 16 Agustus 2011

Filsafat India

FILSAFAT INDIA


Filsafat merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa Yunani, yakni Philosophia, yang terdiri dari kata philos, yang berarti cinta atau suka, dan shopia yang berarti bijaksana. Dengan demikian,secara etimologis, filsafat memberikan pengertian cinta kebijaksanaan (Praja, S, 2003:1-2). Secara garis besar perkembangan filsafat di dunia dibagi menjadi 2 kubu, yakni filsafat yang mengacu ke timur (Asia) dan filsafat yang mengacu pada barat (Eropa).
Dari kedua kubu filsafat tersebut, yang pertama berkembang adalah filsafat yang berasal dari timur. Filsafat timur sendiri sebenarnya terdiri dari tiga cabang yang didasarkan pada periodeisasi dan wilayahnya, yaitu filsafat India, filsafat Cina, dan filsafat Arab. Filsafat India mengarah dan berkembang pada Hinduisme dan Buddhaisme, filsafat Cina mengarah kepada Taoisme dan Confusianisme, sedangkan filsafat Arab, tentu saja mengarah kepada Islam.
Mengacu pada periodeisasi filsafat timur, filsafat yang berkembang pertama kalinya adalah aliran filsafat India. Perkembangan filsafat India sendiri dapat dibagi menjadi 4 zaman yakni:
1.      Zaman Prasejarah
2.      Zaman Veda
a.       Zaman Veda Purba
b.      Zaman Brahmana
c.       Zaman Upanisad
3.      Zaman Buddha
4.      Zaman Purana
Pada zaman Veda, filsafat India mengalami awal perkembangan yang sangat pesat. Pada masa ini, muncullah Veda, yang bisa dibagi menjadi 4 bagian (samhita), yakni:
1.      Rg Veda (nyanyian pujaan-pujaan)
2.      Sama Veda (mantra yadnya)
3.      Yajur Veda (rumusan upacara-upacara korban)
4.      Atharwa Veda (mantra-mantra mistik)
Pada masa ini pula dilahirkan 3 kitab suci yang pada nantinya berperan penting dalam agama Hindu. Kitab itu antara lain, Brahmana, kitab yang berisi tentang spekulasi tentang kurban dan kedudukan pendeta-pendeta. Aranyaka, kitab yang lebih menekankan pada naskah-naskah esoteris yang merupakan hasil refleksi dari kaum wanaprastha, kitab ini lebih menekankan pada arti batiniah dan simbolis dari kurban. Upanishad merupakan kelanjutan dari Aranyaka. Seringkali Upanishad dikatakan penutup dari Veda, baik secara terminologis maupun kronologis. Itu sebabnya Upanishad seringkali disebut dengan Vedanta.
Metode dalam Upanishad adalah introspektif, dengan titik tolak pengalaman berpikir manusia dan fakta kesadaran manusia. Tema pokok Upanishad adalah hakekat keakuan dan hubungannya dengan kesadaran.
Tuhan, dalam Upanishad dilukiskan sebagai penguasa batin yang tak dapat mati atau sebagai benang yang melewati segala benda dan mengikat mereka bersama. Dialah kebenaran sentral dari eksistensi bernyawa dan tidak bernyawa, dan karenannya dia tidak hanya transenden tapi juga imanen. Daialah pencipta dunia, tetapi ia memunculkan dunia itu dari dirinya sendiri sebagai laba-laba yang membuat jaringan sarangnya.
Pada masa Upanishad ini, akhirnya filsafat India dapat dibagi menjadi 2, yaitu kelompok nastika, dan kelompok astika.
1.   Kelompok nastika merupakan kelompok yang tidak mengakui Veda ajaran tertinggi. Kelompok nastika sendiri terdiri dari tiga, yakni, Carvaka, Jaina, dan Buddha.
Carvaka, adalah sebuah kata yang umumnya menyatakan ‘materialistis’. Tetapi makna aslinya terselubungi dalam kerahasiaan. Menurut pandangan seseorang, Carvaka merupakan nama sebuah uraian umum yang diberikan kepada seseorang yang materialistis, karena ia menganjurkan ajaran tentang, makan minum dan menikah (carv-makan). Brhaspati, dianggap sebagai pendiri aliran ini, didasarkan pada pandangan, (a). beberapa buah pujian Veda yang secara tradisi dilukiskan Brhaspati ditandai dengan semangat revolusi dan kebebasan; (b). dalam kitab Mahabharata dan dimanapun juga, pandangan materialistis dikatakan oleh Brhaspati; (c). kira-kira selusin sutra dan sloka dikutip dikutip dan diambil sebagai referensi oleh berbagai penyusunan yang berbeda-beda, sebagai ajaran materialistis dari Brhaspati.
Jaina, menolak semua otoritas Veda. Menurut Jaina, setiap pendapat adalah sah, karena banyaknya kompleksitas realitas, yang menyebabkan tidak adanya pengetahuan yang bersifat absolut. Pengetahuan dinyatakan sah hanya dalam hubungannya dengan titik tolak yang dipergunakan, dimana Jaina mengenal 7 titik tolak dalam memandang realitas, yakni ada; tiada; tak dapat dilukiskan; ada dan tak dapat dilukiskan; ada dan tiada’ ada, tiada dan tak dapat dilukiskan. Menurut Jaina, hakekat diri adalah kesadaran. Tujuan tertinggi adalah realisasi kondisi murni, mengembalikan jiwa pada hakekatnya yakni pengetahuan tak terbatas (Ananta Jnana), persepsi tidak terbatas(Ananta Darsana), kekuatan tidak terbatas (Ananta Virya), dan kebahagiaan tidak terbatas (Ananta Virya). Ajaran Jaina sendiri, menolak adanya tuhan  sebagai pencipta dunia ini, mereka berpendapat perlunya meditasi dan memuja pada roh-roh sempurna yang terbebaskan (para siddha). Roh-roh yang terbebaskan memiliki kesempurnaan tuhan, dengan mudah dapat menggantikan kedudukan tuhan. Terdapat 5 jenis roh-roh murni (Pancaparamesti), yakni Arhat, Siddha, Acarya, Upadhyaya, dan para Sadhu. Bagi Jaina, pemujaan bukanlah mencari pengampunan atau belas kasih. Jaina percaya pada hukum karma yang tidak dapat diubah, sehingga tidak ada rasa kasih yang dapat membelokkannya. Akibat dari perbuatan salah dimasa lalu, hanya dapat dinetralkan dengan membangkitkan didalam roh daya-daya kuat berlawanan dari pemikiran, perkataan,, perbuatan baik. Setiap orang harus mengusahakan pembebasannya sendiri. Roh-roh bebas hanya membantu sebagai mercusuar. Oleh karena itu Jaina merupakan agama kekuatan dan keberanian. Agama yang harus diusahakan sendiri secara pribadi-pribadi. Itulah sebabnya mengapa roh bebas disebut pemberani (Jina) dan pahlawan (Vira).
Buddha, merupakan ajaran yang dimulai oleh Sidharta Gautama. Ia berasal dari keluarga Shakya, lahir sekitar tahun 558. Kitab suci disebut dengan Tripitaka yang terdiri atas Sutra, Vinaya, dan Abhidharma. Buddha mengajarkan 4 kebenaran utama, yakni:
a.    Hidup adalah sengsara (dukha)
b.   Penderitaan itu timbul karena keinginan (samudaya).
c.    Penderitaan dapat diakhiri dan dicapai nirvana, dimana segala aliran kehidupan berakhir.
d.      Terdapat jalan untuk mengakhiri penderitaan-penderitaan (marga).Hal ini dapat terlaksana dengan perbuatan-perbuatan dan disiplin yang berpuncak pada konsentrasi dan meditasi.
Terdapat tiga tingkatan penderitaan, yakni penderitaan yang berkaitan dengan proses kehidupan (terutama lahir, sakit, tua, mati), penderitaan sebagai akibat dari kesadaran akan adanya kesenjangan dan distansi antara apa yang kita inginkan dan apa yang diperoleh serta kesadaran akan kesementaraan, dan penderitaan sebagai akibat kondisi kemanusiaan. Tidak ada sesuatu hal yang permanen didunia ini kecuali nirvana.
Terdapat beberapa kali konsili Buddha setelah Sidharta Gautama wafat. Konsili pertama dilaksanakan oleh para murid Buddha di Rajagrha, kedua di Vesali seratus tahun kemudian. Buddha, mencapai puncak kejayaannya pada masa Asoka. Pada masa ini diadakan konsili ketiga di Patalipura. Akan tetapi pada masa asoka ini juga terdapat perpecahan dan perbedaan pendapat, yang kemudian menghasilkan dua aliran Buddha, yakni Hinayana (kendaraan kecil) dan Mahayana (kendaraan besar).
Hinayana berharap mencapai pembebasan dalam kehidupan ini atau kehidupan berikutnya dengan mengikuti jalan mulia Buddha, tujuannya adalah nibbana, keadaan pelenyapan segala kesengsaraan. Oleh karena itu hinayana merupakan agama membantu diri sendiri.
Mahayana menekankann pada aspek kehidupan dan ajaran si pendirinya. Kaum mahayanin menunjukkan bahwa usia Buddha yang panjang, setelah pencerahannya, yang diabdikan untuk melayani mahluk-mahluk yang menderita, mejadikannya contoh dan cita-cita, yaitu bahwa pencerahan itu hendaknya dicari bukan untuk pembebasan dirinya sendiri saja, tetapi untuk mampu membantu kebutuhan moral yang lain.

2.         Sedangkan kelompok astika sendiri, memiliki 6 ajaran filsafat yang disebut dengan Sad Dharsana. Ajaran Sad Dharsana inilah yang kemudian menjadi inti perkembangan filsafat India pada zaman Veda.
Secara etimologis, kata Dharsana berasal dari akar kata drś yang bermakna "melihat", menjadi kata dharśana yang berarti "penglihatan" atau "pandangan". Dalam ajaran filsafat hindu, Dharśana berarti pandangan tentang kebenaran. Jadi Sad Dharśana berarti Enam pandangan tentang kebenaran, yang mana merupakan dasar dari Filsafat Hindu.
Pokok-pokok ajaran Sad Dharśana, terdiri dari:
1.      Saṁkhya
Ajaran ini dibangun oleh Maharsi Kāpila Muni, beliau yang menulis Saṁkhyasūtra. Di dalam sastra Bhagavatapurāna disebutkan nama Maharsi Kāpila, putra Devahuti sebagai pembangun ajaran Saṁkhya yang bersifat theistic. Karya sastra mengenai Saṁkhya yang kini dapat diwarisi adalah Saṁkhyakarika yang di tulis oleh Īśvarakṛṣṇa. Ajaran Saṁkhya ini sudah sangat tua umurnya, dibuktikan dengan termuatanya ajaran Saṁkhya dalam sastra-sastra Śruti, Smrti, Itihasa dan Purana.
Kata Saṁkhya berarti: pemantulan, yaitu pemantulan filsafati. Samkhya mempergunakan 3 sistem atau cara mencari pengetahuan kebenaran, yaitu pratyaksa (pengamatan langsung), anumana (penyimpulan), apta vakya (penegasan yang benar)
Ajaran Saṁkhya bersifat realistis karena didalamnya mengakui realitas dunia ini yang bebas dari roh. Disebut dualistis karena terdapat dua realitas yang saling bertentangan tetapi bisa berpadu, yaitu purusa dan prakrtiPurusa dan prakrti adalah anadi (tanpa awal) dan ananta (tak terbatas). Ketidakberbedaan (a viveka) diatara keduanya merupakan penyebab kelahiran dan kematian. Pembedaan antara purusa dan prakrti memberikan mukti (pembebasan). Baik purusa dan prakrti adalah sat (nyata). Purusa bersifat asanga (tak terikat) dan merupakan kesadaran meresapi segalanya dan abadi. Prakrti merupakan si pelaku yang tersusun atas asas materi dan rohani yang memiliki dan terpengaruh oleh Tri Guna atau sifat sattvam, rajas dan tamas.
Ketiga guna tersebut tidak dapat dipisahkan dan saling menunjang satu sama lain, serta saling bercampur. Keeratan hubungannnya seperti nyala minyak, api dan sumbu pada sebuah lampu. Ia membentuk substansi dari prakrti. Akibat pertemuan antara purusa dengan prakrti timbullah ketidakseimbangan dari Tri Guna tersebut yang kemudian menimbulkan evolusi atau perwujudan.

2.      Yoga
Ajaran Yoga dibangun oleh Maharsi Patanjali, dan merupakan ajaran yang sangat populer di kalangan umat Hindu. Ajaran yoga merupakan ilmu yang bersifat praktis dari ajaran Veda. Yoga berakar dari kata Yuj yang berarti berhubungan, yaitu bertemunya roh individu (atman/purusa) dengan roh universal (Paramatman/Mahapurusa). Maharsi Patanjali mengartikan yoga sebagai Cittavrttinirodha yaitu penghentian gerak pikiran. Roh pribadi dalam system yoga memiliki kemerdekaan lebih besar dan dapat mencapai pembebasan dengan tuhan. Sistem yoga, menganggap bahwa konsentrasi, meditasi dan samadi akan membawa pada kaivalya atau kemerdekaan. Sistem yoga juga menganggap bahwa dalam proses yoga, terkandung dalam kesan-kesan dari keanekaragaman fungsi mental dan konsentrasi dari energi mental pada purusa yang mencerahi dirinya.
Kitab Yogasutra, yang terbagi atas empat bagian dan secara keseluruhan mengandung 194 sutra. Bagian pertama disebut: Samadhipada, sedangkan bagian kedua disebut: Sadhanapada, bagian ketiga disebut: Vibhutipada, dan yang terakhir disebut: Kailvalyapada.

3.      Purva Mimamsa
Purva Mimamsa didirikan oleh Maharsi Jaimini. Pada mulanya, Purva Mimamsa bukan merupkan sistem filsafat, melainkan usaha untuk menjelaskan hakekat hukum, peraturan atau kewajiban/dharma, yang menurut sistem ini terdiri atas ketaatan terhadap perintah Veda dan larangan-larangannya.
Penganut Purva Mimamsa disebut Mimamsaka. Kelompok Mimamsaka yang terkenal adalah Kumarila dan Prabharaka. Pandangan Kumarila mendekati pandangan terakhir Advaita Vedanta yang menetapkan bahwa Veda disusun oleh tuhan dan merupakan Brahman dalam wujud suara. Moksa adalah keadaan yang positif baginya dan merupakan realisasi dari atman. Kumarila memiliki pandangan bahwa, pengetahuan tidak cukup guna membebaskan, tapi harus digabungkan dengan karma (kegiatan). Sedangkan Prabhakara menyatakan bahwa penghentian mutlak dari badan yang disebabkan hilangnya dharma dan a-dharma secara total, yang kerjanya disebabkan oleh kelahiran kembali merupakan kelepasan atau pembebasan mutlak, karena hanya dengan karma saja tidak akan dapat mencapai pembebbasan akhir. Untuk itu diperlukan pengetahuan yang sesungguhnya tentang sang diri yang dapat menghalangi timbunan karma, yang dapat membebaskan dirinya dari kelahiran kembali.
Menurut Prabhakara menyatakan bahwa sumber pengetahuan kebenaran (Pramana) menurut Mimamsa adalah sebagai berikut :
1.      Pratyaksa:pengamatan langsung
2.      Anumana:dengan penyimpulan
3.      Upamana:mengadakan perbandingan
4.      Sabda:kesaksian kitab suci atau orang bijak
5.      Arthapatti:penyimpulan dari keadaan
Oleh Kumarila ditambahkan dengan:
6.      Un-upalabdhi atau abhava-pratyaksa:yaitu pengamatan ketidak adaan


  
4.      Nyaya
Ajaran Nyaya bersumber pada Nyayasutra ditulis oleh Maharsi Aksapada Gautama, yang juga dikenal dengan nama Aksapada dan Dirghatapas, pada abad 4 s.m. Nyanya darsana secara umum juga dikenal sebagai Tarka Vada atau diskusi dan perdebatan tentang suatu darsana atau pandangan filsafat; karena Nyanya mengandung Tarka-Vidya (ilmu perdebatan) dan Vada-Vidya (ilmu diskusi).  Objek utama dalam Nyanya adalah perdebatan bahwa Parameswara merupakan pencipta alam semesta. Nyanya menegakkan keberadaan Isvara dengan cara penyimpulan, sehingga dikatakan bahwa Nyanya Darsana merupakan sebuah sastra yang merupakan alat utama untuk meyakini sesuatu objek dengan penyimpulan yang tidak dapat dihindari.
Dalam penyimpulan kebenaran itu, nyanya darsana mendiskusikan melalui bantuan 4 cara pengamatan, yakni:
1.      Pratyaksa Pramana atau pengamatan langsung
2.      Anumana Pramanan atau melalui penyimpulan
3.      Upamana Pramana atau melalui perbandingan
4.      Sabda Pramana atau melalui penyaksian


5.      Vaisesika
Sistem filsafat Vaisesika mengambil nama dari kata Visesa yang artinya kekhususan, yang merupakan cirri pembeda dari benda-benda. Ajaran Vaisesika dipelopori oleh Maharsi Kanada, yang menyusun Vaisesika-sutra. Inti dari ajaran ini adalah Padartha. Padartha secara harfiah berarti arti dari sebuah kata, tetapi disini Padartha adalah suatu permasalahan benda dalam filsafat. Padartha merupakan suatu objek yang dapat dipikirkan (artha) dan diberi nama (pada). Semua hal yang ada, dapat dinamai dan di amati, yaitu semua objek pengalaman adalah Padartha. Benda-benda majemuk saling tergantung, sedangkan benda-benda sederhana sifatnya abadi dan bebas. Dalam Vaisesika Sutra, terdapat 6 buah Padartha.:
1.      Dravya, yakni benda-benda atau substansi yang berjumlah 9 substansi, yaitu tanah (prthivi), air (apah), api (teja), udara (vayu), ether (akasa), waktu (kala), ruang (dis), roh (jiva), dan pikiran (manas.)
2.      Guna atau sifat-sifat jumlahnya 24, yaitu rupa atau warna, rasa, gandha (bau), sparsa (sentuhan), Samkhya (jumlah), parimana (ukuran), prthaktva (keanekaragaman), samyoga (persekutuan), vibhaga (keterpisahan), paratva (keterpencilan), aparatva (kedekatan), gurutva (bobot), dravatva (keenceran), sneha (kekentalan), sabda (suara), buddhi (pemahaman/pengetahuan), sukha (kesenangan), dukha (penderitaan), iccha (kehendak), dvesa (kebencian), prayatna (usaha), dharma (kebajikan), adharma (kekurangan), samskara (sifat pembiakan sendiri.)
3.      Karma atau kegiatan yang terkandung dalam gerakan jenisnya ada 5 buah, utksepana (gerakan ke atas), avaksepana (gerakan ke bawah), a-kuncana (gerakan membengkok), prasarana (gerakan mengembang), gamana (gerakan menjauh atau mendekat).
4.      Samaya bersifat umum menyangkut 2 permasalahan, yaitu sifat umum lebih tinggi dan lebih rendah; jenis kelamin dan spesies.
5.      Visesa atau kekhususan yang merupakan milik 9 substansi abadi dari dravya, yang kesemuanya memiliki perbedaan akhir yang kekal, yang membedakan yang satu dengan yang lainnya. Inilah yang menyebutkan sistem darsana ini disebut dengan vaisesika darsana.
6.      Samavaya, keterpaduan satu jenis, yakni keterpaduan antara substansi dengan sifatnya, antara jenis kelamin atau spesies dengan pribadinya, antara sesuatu objek dengan pemikiran umum yang berhubungan dengannnya dan yang dipikirkan menjadi satu kesatuan nyata.
Meskipun sebagai sistem filsafat pada awalnya berdiri sendiri, namun dalam perkembangannya ajaran ini menjadi satu dengan Nyaya.

6.      Vedanta
Ajaran Vedanta, sering juga disebut dengan Uttara Mimamsa yaitu penyelidikan yang kedua, karena ajaran ini mengkaji bagian Veda, yaitu Upanishad. Kata Vedanta berakar kata dari Vedasya dan Antah yang berarti akhir dari Veda. Sumber ajaran ini adalah kitab Vedantasutra atau dikenal juga dengan nama Brahmasutra. Pelopor ajaran ini adalah Maharsi Vyasa, atau dikenal juga dengan nama Badarayana atau Krishna Dwipayana.
Ada banyak sistem yang berkembang dalam Vedanta, yang bersifat realis, pluralis, monoistis dan idealis. Kesemua system itu menerima Brahman sebagai realitas tertinggi. Adapun beberapa bagian dari Vedanta:
a)      Sankara, adalah system nondualistis, menurut Sankara, Atman sama dengan Brahman, yakni esensi subjektivitas yang bersatu dengan esensi dunia. Dunia seluruhnya tergantung pada Brahman, tetapi Brahman tidak tergantung pada dunia. Brahman adalah dasar seluruh pengalaman, ia tidak sama dengan dunia, tidak berbeda dengan dunia, tidak empiris, tidak objektif, bukan tidak ada, sangat berbeda dari yang lain. Moksa atau pembebasan diri dicapai dengan praktek devosi dan mewudjudkan nilai-nilai etis. Ini dicapai selama orang hidup.
b)      Ramanuja, menekankan perbedaan dalam non dualisme Sankara. Dunia Diri, Brahman itu riil, tapi dunia dan diri tergantung pada Brahman. Diri memiliki eksistemsi abadi, dunia atau materi diri dan Brahman membentuk satu kesatuan, tetapi diri dan dunia hanya sebagai tubuh Brahman. Diluar Brahman tidak ada apa-apa. Itu sebabnya Ramanuja disebut nondualisme dengan perbedaan yakni Brahman memiliki dua bentuk, diri dan materi.setinggi apaun manusia merealisasikan diri, Brahman masih lebih tinggi. Manusia harus selalu menghormati Brahman, itulah sebabnya Ramanuja menekankan aspek kebaktian pada Brahman.
c)      Madhava, aliran yang mengajarkan bahwa dunia dan diri adalah realitas yang independen. Brahman merupakan eksistensi yang abadi, tapi dunia dan diri bergantung pada Brahman.
d)     Pasupata, Sakti dan Pancarata, ketiganya merupakan sekte yang berlawanan dengan Veda. Dalam sistem pancarata, Wisnu sama dengan Brahman, tapi atribut-atributnya tak dapat menampakakan diri tanpa sakti yang dinamakan Laksmi. Sakti ini memiliki aspek yaitu aktivitas dan menjadi (activity and becoming).
Bila sakti itu aktif, keenam atribut Wisnu memanifestasikan diri dalam pengetahuan, ke-Tuhanan, kemampuan, kekuatan, keperkasaan, dan kemuliaan.
Dalam sistem Pasupata (siwa). Siwa, sama dengan Brahman dalam Upanishad. Hakekatnya adalah “aku murni”, tanpa atribut, tanpa keterangan, kesadaran murni.

DAFTAR PUSTAKA


http//www.network54.com/forum/178267/message/Pengaruh+Sad+Dharsana+di+Bali
Maswinara, I Wayan. 2006. Sistem Filsafat Hindu (Sarva Darsana Samgraha). Surabaya. Paramita
Praja, Juhaya S. 2003. Aliran-Aliran Filsafat dan Etika. Jakarta. Kencana

1 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More