jatiluwih

jatiluwih

Selasa, 16 Agustus 2011

Hubungan ideologi dan kekuasaan


Hubungan antara ideologi dan kekuasaan.

Hubungan antara ideologi dan kekuasaan bagaikan hubungan sayur dan garam, saling melengkapi, hambar rasanya jika sayur tidak berisi garam. Demikian juga kekuasan akan terasa kosong jika tidak ada ideologi yang menguatkannya.
Weber mengatakan bahwa kekuasaan adalah kesempatan seseorang atau kelompok untuk menyadarkan masyarakat akan kemauan-kemauannya sendiri, dengan sekaligus menerapkannya terhadap tindakan-tindakan perlawanan dari orang-orang atau golongan tertentu. Kekuasaan memiliki berbagai macam bentuk, dan bermacam-macam sumber (Soekanto, 2002:268-269). Dimana terdapat hubungan sosial antara masyarakat maupun kelompok, pastilah disana ada kekuasaan.
Dalam mencari suatu kekuasaan pastinya diperlukan beberapa sumber-sumber yang bisa dipergunakan untuk merebut, dan mempertahankan kekuasaan, yakni militer, ekonomi, politik, hukum, ideologi, tradisi, ideologi, diversionary power. Salah satu sumber yang seringkali dipergunakan untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan adalah ideologi.
Ideologi atau ideologie (dalam bahasa Perancis) pertama kali dikumandangkan oleh Antoine Destutt de Tracy (1754-1836) yang hidup pada masa Revolusi Perancis yang melihat bahwa ketika Revolusi berlangsung, banyak ide atau pemikiran telah menginspirasi timbulnya ribuan perang untuk menguji kekuatan ide-ide tersebut dalam kancah pertarungan politik untuk merebut kekuasaan, dan mereka mau mengorbankan hidup demi ide-ide yang diyakini tersebut.
China dengan ideologi komunis, ala Mao Zedong, yang berhasil merebut kekuasaan dari Chiang Kai-shek yang berideologi demokrasi ala Amerika. Demikian juga dengan perang Vietnam, yang sebenarnya lebih kearah perang ideologi antara ideologi komunis yang didukung oleh China melawan ideologi demokrasi yang dibela mati-matian oleh Amerika Serikat. Menurut Marx, ideologi adalah sebuah ajaran/paham yang menjelaskan suatu keadaan terutama struktur kekuasaan sedemikian rupa sehingga orang menganggapnya sah, padahal jelas tidak sah. Ideologi melayani kepentingan kelas berkuasa karena memberikan legitimasi kepada suatu keadaan yang sebenarnya tidak memiliki legitimasi (Magnus-Suseno, 2005:122-123).
Ideologi sebagai sebuah sarana merebut kekuasaan akan dikembangkan secara penuh ketika kekuasaan sudah diperoleh . Fungsi dari pengembangan ideologi ketika berkuasa adalah untuk mempertahankan eksistensi dari kekuasaan yang sudah diperoleh.  Jika ideologi sudah berhasil dikembangkan maka kekuasaan yang diperoleh tentunya akan tetap bertahan.
Pengembangan ideologi dalam sebuah kekuasaan tergantung dari ideologi mana yang dianut oleh pemegang kekuasaan. Apakah ideologi yang bersifat terbuka atau tertutup. Ideologi tertutup adalah ajaran yang menentukan tujuan-tujuan dan norma-norma politik dan sosial, yang diterjemahkan sebagai kebenaran yang tidak boleh dipersoalkan lagi, melainkan harus diterima sebagai sesuatu yang sudah jadi dan harus dipatuhi. Kebenaran suatu ideologi tertutup tidak boleh dipermasalahkan berdasarkan nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral yang lain. Isinya dogmatis dan apriori sehingga tidak dapat dirubah atau dimodifikasi berdasarkan pengalaman sosial. Karena itu ideologi ini tidak mentolerir pandangan dunia atau nilai-nilai lain.
Salah satu ciri khas suatu ideologi tertutup adalah tidak hanya menentukan kebenaran nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar saja, tetapi juga menentukan hal-hal yang bersifat konkret operasional. Ideologi tertutup tidak mengakui hak masing-masing orang untuk memiliki keyakinan dan pertimbangannya sendiri. Ideologi tertutup menuntut ketaatan tanpa reserve.
Dengan sendirinya ideologi tertutup tersebut harus dipaksakan berlaku dan dipatuhi masyarakat oleh elit tertentu, yang berarti bersifat otoriter dan dijalankan dengan cara yang totaliter.
Ideologi yang kedua adalah ideologi yang terbuka hanya berisi orientasi dasar, sedangkan penerjemahannya ke dalam tujuan-tujuan dan norma-norma sosial-politik selalu dapat dipertanyakan dan disesuaikan dengan nilai dan prinsip moral yang berkembang di masyarakat. Operasional cita-cita yang akan dicapai tidak dapat ditentukan secara apriori, melainkan harus disepakati secara demokratis. Dengan sendirinya ideologi terbuka bersifat inklusif, tidak totaliter dan tidak dapat dipakai melegitimasi kekuasaan sekelompok orang (www.scribd.com-ideologi dan kekuasaan).
Jika sebuah kekuasaan berawal dari pertentangan antara 2 ideologi atau lebih maka kekuasaan itu akan menjadi kekuasan yang sentral atau terpusat dan hanya mengacu pada ideologi yang dianutnya. Memang benar secara garis besar terdapat dua macam ideologi yang saling bertentangan, yakni ideologi terbuka dan tertutup. Tapi dibalik pertentangan itu ada sebuah kesamaan, yakni ideologi sama-sama dipergunakan dengan berbagai cara untuk melanggengkan kekuasaan yang ada.
Daftar Pustaka

Magnis-Suseno, Franz. 2005. Pemikiran Karl Marx Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama.
Soekanto, Soerjono. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More